Senin, 18 November 2013

BIOAKTVITAS ALKALOID


Kodein atau metilmorfin adalah opium (turunan morfin) dari golongan fenantrena. Obat ini memiliki beberapa khasiat bagi pasien, baik dewasa maupun anak. Kodein dapat dikonversikan menjadi morfin sehingga memiliki efek anti-nyeri (analgesik), meredakan batuk dan sesak napas (antitusif), serta anti-diare. Di antara ketiga manfaat ini, khasiat pereda batuk (antitusif) merupakan yang paling menonjol. Jenis batuk yang dapat diredakan oleh kodein adalah batuk yang kering, iritatif, dan tidak berdahak.

Kodein memiliki efek anti-nyeri. Kodein dapat diindikasikan sebagai pereda atau penghilang nyeri hebat yang tidak dapat diatasi dengan analgesik non-opioid. Sebuah studi yang dilakukan oleh Glowinski menemukan bahwa kombinasi antara parasetamol 500 mg/kodein 30 mg tiga kali sehari ditambah natrium diklofenak 50 mg sehari memiliki efek analgesik yang sama dengan pemberian natrium diklofenak 50 mg dua kali sehari pada pasien artritis reumatoid. Substitusi natrium diklofenak dengan parasetamol dan kodein ini memiliki keuntungan mengurangi efek iritasi pada mukosa lambung.

Secara umum, kodein dapat meredakan nyeri yang menyertai infark miokard, keganasan, kolik renal atau kolik empedu, oklusi pembuluh darah perifer, perikarditis akut, dan nyeri akibat trauma seperti luka bakar, fraktur, dan luka pascabedah. Dosis yang dibutuhkan meningkat sesuai dengan penambahan intensitas nyeri. Hati-hati pada dosis tinggi karena dapat menyebabkan depresi napas.

Efek lain dari kodein yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat adalah efek anti-diare. Alkaloid morfin dan turunannya secara umum memiliki manfaat menghentikan diare dengan terlibat langsung pada otot polos kolon. Pada pengobatan diare yang disebabkan intoksikasi makanan atau obat lain, pemberian morfin harus didahului dengan pemberian garam katalitik untuk mengeluarkan racun dan mikroorganisme penyebab diare. Dosis kodein atau morfin yang menghentikan diare (terkadang dapat menyebabkan konstipasi) kurang lebih sama dengan dosisnya sebagai obat batuk. Namun demikian, penggunaan kodein sebagai anti-diare tidak populer. Hal ini disebabkan saat ini tersedia bahan-bahan sintetik yang bekerja pada saluran cerna.

Khasiat paling terkenal dari kodein adalah penghambatan terhadap refleks batuk. Penghambatan ini bermanfaat meredakan batuk iritatif, kering, dan batuk yang sangat mengganggu. Batuk seperti ini sangat mengganggu pasien karena menyebabkan pasien tidak dapat tidur, tidak dapat beristirahat, dan nyeri pada dada. Pemberian kodein sebagai antitusif dianjurkan bagi pasien dewasa dan anak-anak.

Penggunaan kodein untuk pasien batuk iritatif pada anak-anak masih dianjurkan sampai kini. Buck dalam tulisannya di jurnal Pediatric Pharmacology menerangkan mekanisme aksi kodein dan penggunaanya sebagai analgesik serta antitusif pada anak-anak. Beberapa efek samping yang mungkin timbul adalah idiosinkrasi, alergi, dan intoksikasi bila diberikan berlebih. Cara menghindari bahaya efek samping adalah anamnesis riwayat alergi secara teliti, monitor setelah konsumsi, serta berhati-hati dalam dosis. Pada anamnesis, perlu ditanyakan penggunaan kodein sebelumnya dan adakah efek samping alergi. Sebagai tambahan, tanyakan pula riwayat alergi terhadap bahan lain dan riwayat alergi pada keluarga.

Penggunaan sebagai obat batuk bagi pasien dewasa direkomendasikan pada dosis 10 mg 3-4 kali sehari. Sementara, bagi anak adalah 1 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3-4 dosis. Sebagai akibat pada metabolisme, dosis ini dapat menyebabkan penurunan suhu tubuh, penurunan aktivitas otot, vasodilatasi perifer, serta penghambatan mekanisme neural di sistem saraf pusat. Kecepatan metabolisme tubuh akan berkurang dengan pemberian morfin dan turunannya. Hiperglikemia sementara dapat terjadi akibat pelepasan adrenalin yang menyebabkan glikogenolisis. Efek-efek ini hanya bersifat sementara, dan dapat hilang seiring berjalannya waktu. Secara umum, tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai hal tersebut.

Dengan demikian, sebagai obat batuk, sampai saat ini kodein masih tetap mendapat tempat bagi pasien yang merasakan gangguan (iritasi) saluran napas atas akibat batuk kering kronis. Efek analgesik dan antitusif bekerja sama mengurangi batuk yang menyebabkan nyeri dada. Para dokter yang merawat pasien harus melakukan pengawasan, di samping mengedukasi pasien saat menggunakan kodein. Demikian juga bagi pasien anak-anak, peran orang tua sangat penting dalam pengawasan.
Permasalahanya disini, seperti yang kita ketahui morfin adalah salah satu narkotika yang dilarang sedangkan kodein(metilmorfin) adalah turunan dari morfin, apakah kodein ini mempunyai sifat yang membuat orang ketergantungan juga seperti morfin? Jelaskan kalau tidak kenapa, kalau ya kenapa?
yang kedua bagaimana cara kerja kodein dalam mengatasi batuk???


Jumat, 15 November 2013

BIOAKTIVITAS GETAH PELEPAH PISANG AMBON Musa paradisiaca var sapientum TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI



Pisang Musa paradisiaca merupakan tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara. Menurut INIBAP (2000) dalam Heslop-Harisson dan Schwarzacher (2007), pisang merupakan hasil pertanian utama dunia yang tumbuh dan dikonsumsi oleh lebih dari 100 negara yang memilikiiklim tropis dan sub tropis. Diseluruh dunia sendiri lebih dari 1000 varietas pisang yang telah diakui (Anonim, 2008).
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak keanekaragaman pisang sehingga menjadikannya sebagai salah satu negara pengekspor pisang. Salah satu jenis pisang yang sering kita jumpai adalah pisang ambon Musa paradisiaca var. sapientum. Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa kandungan pisang tersebut adalah katekulamin, serotonin dan depamin (Waalkes, et al., 1958), karbohidrat (Anhwange, 2008), saponin, tannin, alkaloid, indol alkaloid, flavanoid, phylobattanin, antrakuinon dan kuinon ( Salau, et al., 2010)
Getah pelepah pisang sendiri mengandung tanin dan saponin yang berfungsi sebagai antiseptik (Djulkarnain,1998), pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Budi 2008 dalam Priosoeryanto et al., (2006) yakni getah pelepah pisang mengandung saponin, antrakuinon, dan kuinon yang dapat berfungsi sebagai antibiotik dan penghilang rasa sakit. Selain itu, terdapat pula kandungan lektin yang berfungsi untuk menstimulasi pertumbuhan sel kulit. Kandungan-kandungan tersebut dapat membunuh bakteri agar tidak dapat masuk pada bagian tubuh kita yang sedangmengalami luka. Oleh karena itu ekstrak getah pelepah pisang dapat digunakan untuk mengobati infeksi nosokomial (Hananta, 2006).
Menurut (WHO, 2002) infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat oleh pasien selama dirawat dirumah sakit akibat terjadinya perpindahan mikroorganisme melalui petugas kesehatan maupun alat yang digunakan saat mengobati pasien maupun disebabkan oleh mikroorganisme yang sudah ada dalam tubuh pasien. Berdasarkan hasil survey WHO dari 55 rumah sakit di 14 negara bagian dari Eropa, Mediteranian bagian timur, Asia selatan dan timur serta Pasifik menunjukkan 8,7% pasien dari rumah sakit tersebut terkena infeksi nosokomial, sehingga sekitar 1,4 juta orang didunia menderita infeksi nosokomial.
Di Indonesia sendiri kejadian infeksi nosokomial pada jenis atau tipe rumah sakit sangat beragam. Penelitian yang dilakukan oleh Depkes RI pada tahun 2004 diperoleh data proporsi kejadian infeksi nosokomial dirumah sakit pemerintah dengan jumlah pasien 1.527 orang dari jumlah pasien berisiko 160.417 (55.1%), sedangkan untuk rumah sakit swasta jumlah pasien 991 dari jumlah pasien yang berisiko 130.047 (35,7%) dan untuk rumah sakit ABRI dengan jumlah pasien 254 dari jumlah pasien berisiko 1.672 (9,1%) ( Depkes RI, 2004).
Menurut INICC (2010) mikroorganisme yang menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial yakni Enterococcus, Providencia, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, Stenotrophomonas, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia dan Candida albicans. Beberapa mikroorganisme tersebut telah resisten dengan obat yang diberikan, misalnyaisolat Pseudomonas aeruginosa resisten terhadap imipenem atau meropenem sebesar 47,2%, Staphylococcus aureus resisten terhadap methicillin sebesar 84,4%, Klebsiella pneumoniaresisten terhadap ceftazidimin sebesar 76,3%, Escherichia coli resisten terhadap ceftazidimin sebesar 66,7% dan Acinetobacter baumannii resisten terhadap imipenem atau meropenem sebesar 55,3% (Rosenthal, et al., 2011).
Persentase mikroorganisme yang menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial yakni Staphylococcus aureus sebesar 34%, Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli sebesar 32%, Candida albicans sebesar 10% dan Acinetobacter baumannii sebesar 7% (Tortora,et al., 2001).
Berdasarkan ulasan diatas, dapat diketahui bahwa Staphylococcus aureus merupakan bakteri pemeran utama yang menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial sebesar 34%. Staphylococcus aureus ini pula sudah resisten terhadap methicillin (MRSA) sebesar 84,4%, Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli merupakan bakteri yang menyebabkan infeksi ini sebesar 32% dan telah resistensi dengan imipenem atau meropenem sebesar 47,2% dan ceftazidimin sebesar 66,7%. Resistensi ini memacu perkembangan penelitian obat berbahan tumbuhan yang antiinfeksi. Sebelumnya telah ditemukan senyawa yang dikandung oleh getah pelepah pisang yang mampu menghambat pertumbuhan Pseudomonas aeuroginosa namun pisang yang digunakan tidak ditentukan spesiesnya (Hananta, 2006).
Penelitian ini menggunakan senyawa pada getah pelepah pisang terutama pada spesies pisang ambon Musa paradisiaca var. sapientum untuk mengetahui efek antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan dari Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeuroginosa dan Escherichia coli yakni bakteri yang diketahui sebagai penyebab utama terjadinya infeksi nosokomial.
Efek antibakteri getah pelepah pisang Ambon terhadap ketiga bakteri uji tersebut disebabkan karena adanya saponin, flavanoid, tannin, kuinon, phenol, dan lektin (Priosoeryanto, 2005). Menurut Prasetyo, et al.,(2008) menyatakan bahwa saponin merupakan senyawa metabolik sekunder yang berfungsi sebagai antiseptik sehingga memiliki kemampuan antibakteri. Adanya zat antibakteri tersebut akan menghalangi pembentukan atau pengangkutan masing-masing komponen kedinding sel yang mengakibatkan lemahnya struktur disertai dengan penghilangan dinding sel dan pelepasan isi sel yang akhirnya akan mematikan maupun menghambat pertumbuhan sel bakteri tersebut. Hal yang sama dikemukakan oleh Cannell (1998) bahwa senyawa saponin akan membentuk senyawa kompleks dengan membran sel melalui ikatan hidrogen, sehingga dapat menghancurkan sifat permeabilitas dinding sel dan akhirnya dapat menimbulkan kematian sel.

permasalahan  : pemasalahan saya disini bagaimana kerja flavonoid dalam menghanbat terbentuknya bakteri lagi, dan bagaimana reaksinya???

Jumat, 08 November 2013

isolasi golongan alkaloid


Isolasi alkaloid pada DAUN Melochia umbellata (Houtt.) Stapf. Var. Deglabrata
Penyiapan Sampel
Daun M. umbellata var. deglabrata dideter-minasi di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia, Fakultas Farmasi UNHAS. Sampel daun dikumpul-kan dari kota Makassar, Sulawesi Selatan, diber-sihkan dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di tempat yang tidak terkena sinar mata-hari. Setelah kering daun diserbukkan untuk siap digunakan sebagai bahan penelitian.
Pembuatan Ekstrak
Sebanyak 500 g serbuk daun dimasukkan ke dalam wadah maserasi kemudian ditambahkan 2 liter n-heksan dan dibiarkan selama 24 jam sambil sekali-sekali diaduk. Filtrat disaring dan ampas direndam lagi dengan pelarut yang sama. Hal ini dilakukan sebanyak 3 x 24 jam. Filtrat di-kumpulkan dan diuapkan pada rotavapor hingga diperoleh ekstrak n-heksan kental. Ampas dike-ringkan kemudian dengan cara yang sama dieks-traksi kembali dengan metanol hingga diperoleh ekstrak metanol.
Partisi dan Fraksinasi Komponen Kimia
Ekstrak metanol dipartisi dengan etil asetat hingga diperoleh ekstrak metanol larut etil asetat dan yang tidak larut etil asetat. Ekstrak metanol yang larut etil asetat difraksinasi dengan kromato-grafi kolom cair vakum (KCV) dengan fase diam silika gel G-60 dan fase gerak yang memiliki gradien kepolaran yang meningkat, berturut-turut n-heksan, n-heksan:etil-asetat 15:1, 10:1, 5:1, 1:1, 1:5, etilasetat, etil-asetat:metanol 1:5, 1:1 dan me-tanol. Masing-masing fraksi dipantau komponen kimianya dengan KLT menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak n-heksan : etilasetat (2:1), dan di-peroleh 12 fraksi, yang selanjutnya diidentifikasi dengan pereaksi Dragendorf. Fraksi yang mengandung alkaloid (fraksi 6 dan 7) diga-bung menjadi satu fraksi dan diisolasi lebih lanjut dengan kromatografi lapis tipis preparatif.
Isolasi dan Pemurnian
Fraksi gabungan diisolasi dengan kroma-tografi lapis tipis preparatif dengan fase diam silika gel PF254 dan fase gerak n-heksan : etil asetat : amoniak (90:30:0,5) dan diperoleh 3 pita isolat se-nyawa alkaloid Masing-masing pita pemisahan yang diperoleh dikerok kemudian dilarutkan dalam kloroform – metanol (1:1), lalu dipisahkan antar komponen kimia dengan silika gel dengan penya-ringan. Ada 3 senyawa alkaloid yang diperoleh dan disebut sebagai senya-wa MU-1, MU-2 dan MU-3. Masing-masing senyawa dimurnikan dan diuji ke-murniannya dengan KLT multieluen.


Permasalahan saya disini, bagaimana jika pada 3 pita isolat se-nyawa alkaloid Masing-masing pita pemisahan yang diperoleh dikerok kemudian dilarutkan dalam kloroform – metanol (1:1), yang pada perbandingan larutannya di ganti dengan (2:1) atau pun (1:2) apa yang terjadi masih bisakah terpisah???